Senin, 15 Juni 2009

Harta Terakhirku

Sekali lagi aku membuka album foto berwarna merah marun ini. Mungkin untuk yang kedua kalinya dalam sehari ini. Dan ke dua puluh kalinya dalam seminggu ini. Heh… padahal aku tak pernah menghitungnya. Aku hanya merasa sudah terlalu sering aku mengambilnya dari rak buku di kamarku dan melihat-lihat foto di dalamnya, akhir-akhir ini.


Ini adalah album foto keluargaku yang usianya sudah sekitar 11 tahun. Entah mengapa tidak ada seorang pun yang memperhatikannya saat album foto ini berada di dalam lemari ruang keluarga. Hingga akhirnya aku tertarik dan menyayanginya seperti aku menyayangi koleksi-koleksi perangkoku. Mungkin karena ada sebuah foto yang tak ada lagi negatifnya dan tak akan kudapatkan lagi momen seperti itu. Aku merasa foto itu terlalu berharga dari koleksi perangkoku yang paling tua.


Di dalam foto itu tergambar seorang pria berumur sekitar 28 tahun-an memakai kemeja batik dengan celana hitam, terlihat elegan, menurutku. Seorang wanita dengan umur yang sama memakai kemeja warna khaki dipadu dengan rok berlipit berwarna senada, rambutnya lurus terjepit 2 khas dandanan tempo dulu, terlihat anggun dan lembut, masih
menurutku. Diantara keduanya duduk seorang anak perempuan berkuncir satu memakai terusan berwarna biru berenda putih di kedua lengan dan bagian roknya, lucu dan menggemaskan, itu juga menurutku. Ketiganya tersenyum bahagia, jika aku tak salah mengartikannya. Begitulah gambaran foto yang menarik hatiku itu.


Seingatku, bocah perempuan dalam foto itu adalah aku yang masih berumur 5 tahun. Sedangkan pria dan wanita itu tentu saja kedua orang tuaku. Foto itu bukanlah satu-satunya yang menjadi koleksi albummerah marun itu. Masih banyak foto-foto lain yang tertempel di
dalamnya. Kebanyakan adalah foto-foto masa kecilku dengan berbagai pose dan berbagai suasana. Bahagia, sepertinya aku di dalam foto-foto itu. Kesenangan, keceriaan, bermain, mainan, permen, coklat, baju bagus, mungkin itu yang terpikirkan olehku saat itu. Menyenangkan, sepertinya.


“Ta, bangun….Kamu kuliah nggak?”, seseorang membangunkanku daribalik pintu kamar sambil mengetuk pintu berulang-ulang.


Ah… kenapa pagi cepat sekali datang.


“Kuliah kok. Ini udah bangun”.


Bukannya aku tidak suka kuliah, hanya saja aku tidak terlalu suka pagi hari.


“Kenapa sih aktivitas itu nggak berlangsung pas malem hari aja. Khan bagus, ada bintang, bulan, lampu warna warni nyala dimana-mana, nggak panas lagi”, pikirku beberapa saat lalu dan sempat akusampaikan pada teman-temanku.


“Dasar wanita malam. Mulai dari jaman adam-hawa tuh, kalo siang aktivitas, kalo malem istirahat. Emang kamu, semua dibalik-balik”, begitu komentar teman-temanku.


“Terserahlah”, batinku.


Wanita malam, mungkin terlalu ekstrem sebutan itu untuk seorang cewek baik-baik sepertiku –setidaknya aku memang bukan ‘wanita malam’-. Tapi teman-temanku selalu memanggilku seperti itu. Sebutan itu semacam menjadi gelar buatku dan sudah dipatenkan oleh sebuah lembaga pemerintahan. Ah…terlalu berlebihan sepertinya. Tapi itulah kenyataannya. Ada juga yang menjulukiku wanita kelelawar, kupu-kupu hitam, dan sejenisnya. Bahkan teman-teman baruku lebih mengenalku dengan gelar itu daripada nama asliku. Bukan tanpa alasan mereka
memanggilku seperti itu. Aku memang lebih suka beraktivitas di malam hari. Seandainya ada perpustakaan yang buka 24 jam mungkin aku adalah pengunjung setianya di malam hari.


Entahlah, menurutku saat malam hari, kita bebas melakukan apa saja yang kita inginkan. Tanpa takut orang lain melihat. Tanpa takut orang lain mericuhi. Aku pun merasa ketenangan di malam hari.


Tidak seperti siang hari dimana suasana terang benderang karena matahari dengan setia menerangi. Terlalu banyak hal yang dapat dilihat orang. Terlalu banyak orang ingin tahu. Dan yang paling penting terlalu banyak hal yang tak ingin kulihat terjadi di depan
mataku.


Dari semuanya itu, aku suka malam hari, karena hanya ada aku di situ. Hanya ada aku yang akan berpikir tentang aku. Hanya ada aku yangmengerti tentang aku. Hanya ada aku yang melakukan apa saja untukku sendiri.


Seperti biasa, jalanan yang kulalui ini selalu ramai di pagi hari. Anak-anak berseragam yang berangkat sekolah, ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja, wanita-wanita karier yang menjinjing tasnya sambil berjalan cepat, toko-toko ataupun kantor-kantor yang mulai dibuka.
Jam kerja, kata mereka. Aku selalu bertanya dalam hatiku, untuk apa mereka melakukan semua itu? Apakah orang-orang dekat mereka juga menginginkan mereka berbuat seperti itu? Apakah yang mereka lakukan itu berarti bagi orang-orang yang mereka kenal? Apa mereka tahu apa tujuan mereka melakukannya? Apa mereka juga akan melakukan hal yang
sama esok hari? Apa mereka bahagia melakukannya?


“Adek kalo udah gede pengen jadi apa?”, tanya Ayah padaku.


“Em…pengen jadi apa ya? Kalo Ayah pengen aku jadi apa?”, aku balik tanya.


“Jadi orang sukses”


“Kalo jadi Polwan, sukses nggak, Yah?”


“Ya sukses dong”


“Kalo gitu aku jadi Polwan aja”


“Jadi Polwan ya, Kalo gitu kamu harus rajin dan pinter”


“OK deh, Yah”


Masih teringat obrolan tentang cita-cita itu. Begitu inginnya aku mewujudkan apa yang Ayahku mau. Tapi apa kini aku masih menginginkannya?


“Ma, enaknya pake baju yang mana ya?”, tanyaku pada Mama saat aku akan pergi ke ulang tahun temanku.


“Em…kayaknya yang kuning gading itu bagus deh”


“Maksud Mama yang ini?”, tanyaku sambil menunjukkan baju di tangan kananku.


“Iya”


“Ya udah, aku pake yang ini”


Begitu aku menyenangi hal-hal yang Mamaku juga senang. Tapi apa kini aku masih menyenanginya?


“Ayah, liburan kali ini kita kemana?”


“Kayaknya di rumah aja. Soalnya Ayah lagi banyak kerjaan, nggak bisa ditinggal. Nggak apa-apa ya? Atau kamu mau liburan sendiri di rumah bude?”


“Nggak deh, nggak apa-apa liburan di rumah. Yang penting bareng sama Ayah sama Mama”, jawabku.


Begitu inginnya aku melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama Ayah dan Mamaku. Tapi apakah kini semuanya masih terasa menyenangkan?


“Dek, hari ini kita ke rumah Yang Ti ya?”, ajak Mama sambil memilihkan baju bagus untukku.


“Trus Ayah gimana, Ma? Nyusul ya?”


“Ayah lagi banyak kerjaan, jadi nggak bisa nyusul”


“Kita berapa hari, Ma di sana?”


“Mungkin 1 minggu”


“Trus sekolahku gimana, Ma?”


“Nanti Mama ijinkan ke guru adek, Gimana?”


“Kenapa sih kita mesti ke sana, Ma? Sekarang khan bukan lagi liburan?”


“Yang Ti lagi pengen ditemenin. Tadi pagi telpon”


“Kok Ayah tadi nggak ngomong apa-apa ya, Ma? Emang Ayah tau kita mau ke rumah Yang Ti?”, tanyaku lagi sambil memakai pakaian yang sudah Mama pilihkan. Sementara Mama memasukkan beberapa perlengkapan ke dalam tas besar yang biasa kami gunakan untuk berlibur ke luar kota.


“Tau kok”


“Adek telpon Ayah dulu ya”


“Eit…nanti dulu. Ini belum disisir rambutnya. Nanti kalo udah siap berangkat baru telpon Ayah”, cegah Mama. Aku pun menurut saja waktu Mama menyisir rambutku dan menguncirnya.


“Pake bedak sendiri ya”. Aku mengangguk. 5 menit kemudian sebuah taksi yang mungkin sudah dipesan Mama berhenti di depan rumah.


“Ma, taksinya udah dateng”


“Ayo berangkat”. Mama menarik tanganku sambil membawa tas besar di tangan satunya.


“Ma, adek belum telpon Ayah”, aku mengingatkan.


“Nanti aja di rumah Yang Ti. Udah nggak keburu nih. Ntar Pak supirnya kasian nunggu lama-lama”. Aku pun masih menurut berjalan di samping Mama kemudian masuk ke dalam taksi.


“Eh, cucuku sudah datang”, sambut Yang Ti begitu aku dan Mama sampai di rumahnya. Waktu 2 jam perjalanan cukup membuatku lelah. Hingga aku hanya tersenyum untuk menjawab sambutan Yang Ti.


“Adek capek ya? Tidur aja di kamar belakang. Nanti Mama bangunin buat mandi”. Aku pun berjalan ke kamar belakang yang memang selalu aku dan keluargaku pakai bila sedang berkunjung ke rumah Yang Ti. Kata Mama itu adalah kamar Mama sewaktu masih tinggal bersama Yang Ti. Sejak Oom Bekti menikah dan Yang Kung meninggal, Yang Ti tinggal
di rumah ini hanya bersama seorang pembantu.


Malamnya setelah makan malam aku baru ingat kalau aku belum menelponAyah.


“Ma, aku telpon Ayah ya. Ayah pasti cariin aku”, ijinku.


“Tadi Mama udah telpon, bilang kalo kita udah sampe sini. Lagian Ayah juga udah tau kalo adek mo ke rumah Yang Ti, jadi nggak mungkin Ayah cariin adek”


“Oh, iya ya”. Aku pun kembali menonton televisi.


Aku tidak bisa tidur. Aku memejamkan mata tapi tidak bisa tidur. Kemudian aku bertanya pada Mama yang berbaring di sebelahku,


“Ma, lusa khan Minggu. Kira-kira Ayah ke sini nggak ya?”


“Mama nggak tau?”. Aku pun terdiam.


Mama sedang berbincang-bincang dengan Yang Ti di kebun sebelah ketika aku bermaksud menelpon Ayah. Sudah 4 hari tidak ada kabar dari Ayah. Mama bilang Ayah menelpon tiap malam, tapi kenapa Ayah tidak mau berbicara denganku? Aku hanya ingin memastikan apakah hari ini Ayah menyusulku, paling tidak aku ingin tahu apa Ayah merindukanku seperti
aku merindukannya? Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin pulang. Entahlah, biasanya aku paling suka berlibur ke rumah Yang Ti. Tapi aku merasa kedatanganku kali ini sama sekali tidak menyenangkan.


“Dek, ayo ikut Mama sama Yang Ti belanja”, ajakan Mama mengagetkanku yang sudah mengangkat gagang telepon. Aku pun menurut mengikuti Mama dan Yang Ti berbelanja.


“Kinan, kapan sidangnya dimulai? Apa kamu sudah siap?”


“1 minggu lagi, Bu. Kalo aku ke kota, titip Rista ya, Bu”


“Iya, pasti. Tapi kamu mau ngomong apa ke Rista? Pasti dia akan tanya. Lagi pula dia sudah tidak masuk sekolah beberapa hari”


“Aku juga belum tau, Bu. Rista juga tanya-tanya Ayahnya terus”


“Oh iya, kemaren waktu kamu nyuci baju, Tio telpon, yang nerima Mbok Par, hampir aja sama Mbok Par dikasihkan Rista. Gimana kalo misalnya Rista berhasil menghubungi Ayahnya?”


“Ya itu yang aku takutkan, Bu. Kalo sampai Rista tau sebelum sidang selesai, dia pasti minta pulang. Bisa-bisa dia nekat pulang, pengen ketemu Ayahnya”. Beberapa kalimat Yang Ti selanjutnya tidak terdengar olehku. Aku memang belum begitu mengerti maksud pembicaraan
Mama dan Yang Ti yang aku dengar lewat balik pintu kamar Yang Ti. Tapi yang aku tahu pasti, Ayah tidak akan pernah menyusulku ke sini. Dan kemungkinan besar aku tidak akan bertemu Ayah lagi. Mama jahat, Yang Ti jahat. Itu yang terpikirkan olehku. Karena aku merasa Mama dan Yang Ti melarangku menelpon bahkan bertemu Ayahku sendiri.

Akhirnya tiba saat itu. Saat dimana aku harus menerima, yang banyak orang sebut, takdir. Takdir yang membuat aku harus pergi ke rumah Yang Ti tanpa Ayah. Takdir yang membuat aku harus menunggu lama untuk bisa bertemu Ayah dan menahan rinduku. Takdir yang membuatku berpikir begitu jahatnya Mama dan Yang Ti yang selama ini aku sayangi. Takdir
yang membuatku semakin jauh dengan Ayah. Takdir yang menyiangkan malam dan memalamkan siangku. Takdir yang membuatku marah dan ingin aku membencinya. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa dan apa takdir itu.

Arista Mandala Putri, usia 10 tahun, harus tinggal bersama Mama dan Yang Ti-nya dan berjauhan dengan Ayahnya sendiri karena kedua orang tuanya telah berpisah.

Arista Mandala Putri, kelas 4 SD, harus pergi dari rumah tempatnya selama ini tinggal karena Mama dan Ayahnya telah bercerai.

Masihkah aku harus bertanya pada Mama apa yang akan aku lakukan, bila Mama tidak pernah bertanya padaku apa yang ingin Mama lakukan? Masihkah aku harus bertanya pendapat Mama, bila Mama tidak pernah bertanya pendapatku dalam mengambil keputusan? Masihkah aku harus menyenangi apa yang Mama senangi, bila apa yang Mama lakukan sudah tidak menyenangkanku? Masihkah aku harus mewujudkan apa yang Ayah inginkan, bila Ayah sudah tidak menginginkan aku? Masihkah aku harus menjadi seorang anak perempuan yang penurut, bila kedua orang tuaku tidak bisa menuruti keinginanku? Bukankah begitu sederhananya
keinginanku? Aku hanya ingin tinggal serumah dan bahagia bersama kedua orang tuaku, lagi. 10 tahun pertanyaan dan pernyataan itu terus berkeliling di otakku. Keluar masuk tanpa bisa ku hentikan.

“Ta!! Nglamun aja”, sapaan temanku membuyarkan lamunan dan ingatanku.

“Eh, oh, iya, Din. Sejak kapan ada di situ?”, tanyaku sambil melihat sekeliling. Ternyata aku masih berada di jalanan yang tidak pernah sepi dari aktifitas paginya yang biasa aku lalui ini.

“Dari tadi. Kamu ngliatin apa sih?”

“Ah, nggak kok”. Sepasang suami istri dan anak perempuannya yang berjalan berlawanan arah denganku tadi sudah tidak ada. Itulah yang menarik perhatianku dan seakan menarikku pula ke dalam mesin waktu untuk kembali mengingatkanku pada peristiwa-peristiwa, yang sekali
lagi mereka sebut, takdir.

“Gimana tugas desain terapannya? Udah selesai belum?”, tanya Dinda kemudian.

“Udah”, jawabku mantap sambil berjalan di sampingnya menuju kampusku.

Malamnya, kembali aku mengambil album foto merah marun dari rak bukuku dan membuka tiap halamannya. Saat aku melihat foto-foto itu seakan-akan kebencianku pada orang-orang dewasa, yang menganggap apa yang telah mereka lakukan adalah benar, berangsur-angsur sirna.

Takdir, menurut mereka tidak bisa kita ubah. Aku pun berusaha menerima takdir itu. Meski terkadang aku bertanya mengapa takdir seperti itu datang padaku? Apa yang takdir inginkan dariku? Dan mengapa manusia masih harus memilih jika takdir itu sudah tersedia?

“Ta, ayo makan. Dari tadi kamu belum makan lho”, panggil Mama dari luar kamarku.

“Iya, Ma. Bentar lagi”

Tit…tit…tit…

“Eh, ada sms”

From : aYaH

To : RiesTa

Ta,besok Ayah masuk siang.Kamu bareng Ayah nggak?

To : aYaH

Rista bareng.Jemput jam8 ya.Rista masuk jam9.Mks,yah.Rista makan
dulu

Setelah mengirim balasannya, aku menutup album foto merah marun kesayanganku dan mengembalikannya ke rak bukuku. Aku akan terus menjaga album foto merah marun itu. Hingga sampai kapan pun aku ingin melihatnya aku tinggal mengambilnya dari rak bukuku. Karena album foto merah marun itu adalah harta terakhirku.


22jan08

2 komentar:

  1. sippp.......
    T.O.P.
    ku tunggu karya-karya mu selanjutnya di toko buku dengan tulisan Bestseller di bagian depan sampulnya...
    ahai.....

    BalasHapus
  2. lali gawe anonim...
    hehehe..iku aku sing komen...

    BalasHapus

setelah baca, jangan lupa kritik dan saran ya,, senang membaca komentarmu :)