Senin, 01 Agustus 2011

Kereta api itu kendaraan paling romantis #1

Naik kereta api tut tut tut,, siapa hendak turut,, ke Bandung Surabaya bolehlah naik dengan percuma,,
Tunggu,, tunggu,, lagu ini ngajarin kita buat gak jujur?!?, kok 'naik dengan percuma'?,, harusnya kan naik kereta itu bayar,, bwahahaha,, itu masih sedikit hal tentang kereta,,
Sekarang saya memang mau bahas hal-hal yg berkaitan dengan kereta,, nggak saling nyambung sih, tapi objeknya sama,,
Saya punya statement bahwa kereta api adalah kendaraan paling romantis hahaha,, Kok bisa? Pasti tanya gitu kan? Gini, kebanyakan tayangan, entah film, lagu, atau iklan, yang menceritakan tentang perpisahan atau pertemuan kembali, pasti menggunakan jasa kereta api,,
Contohnya film Kuch Kuch Hota Hai, waktu si Kajol pergi kan naik kereta,, Mohabbatein [kok Bollywood lagi], ada satu tokoh cewek yang selalu menanti suaminya yang pulang naik kendaraan berbadan banyak ini,, Hachiko, semua udah paham kalo anjing setia ini selalu mengantar dan menjemput majikannya yang menggunakan jasa kereta, sampai akhir hayatnya, dengan setia Hachiko menunggu majikannya datang, so touchy,,

Contoh lagu diantaranya Kereta Datang Pukul Berapa milik Iwan Fals yang ceritanya lagi nunggu kedatangan seorang sahabat,, Aku, Kau dan Kereta dari Jikustik bahwa perpisahan sepasang manusia dalam cerita ini ditandai dengan perginya si cewek yang naik kereta,, Stasiun Balapan-nya Didi Kempot [Campursari, yeah,,] yang isinya tentang pertemuan terakhir dengan kekasihnya di stasiun milik kota Solo itu,, Sepasang Mata Bola-nya Hendri Rotinsulu, bertema perjuangan, sang ksatria dibawa sama kereta,,
Contoh iklan ada Tropicana Slim versi sweet memories, emang sweet banget nih, cowok teman spesial masa kecil kembali datang dengan kereta [tanpa kuda]nya hehehe,, Fren versi agnes monica kehilangan hp,
Nah terbukti secara advertisement [advertising + entertainment] kan?!?, hehehe,,
Entah kenapa ya,, datang dan perginya kereta yang perlahan itu menimbulkan suasana mellow, romantis, sedih, penantian, dan teman-temannya,, kayak ada yang nyesek gitu, bagi yang ada di dalam gerbong atau yang berdiri di stasiun. Kalian pernah merasa begitu?

Kereta api itu kendaraan peka jaman dan milik semua orang. Pertama kali saya naik kereta api pas kelas 2 SMA, waktu itu saya lagi PKL di Surabaya. Selama masa PKL kurang lebih 4 bulan, saya memanfaatkan kereta api untuk pulang ke Malang tiap minggunya.
Di dalam gerbong tidak hanya didominasi bapak-bapak pekerja, tapi juga ibu-ibu pedagang, mbak-mas kuliahan, anak-anak bersama kluarganya. Mulai dari yang pakaiannya necis dengan setelan kemeja, celana, plus pantopel, sampai yang pakai kain jarik khas ibu-ibu tempo dulu, sandal jepit dan tas kreseknya. Ramai,, semua tumpek blek di dalam kereta.
Mungkin karena kereta api adalah salah satu transportasi termurah dengan jangkauan yang lumayan luas. Makanya banyak orang dari berbagai kalangan memanfaatkan kendaraan yang berjalan di atas rel ini.

4 komentar:

  1. Hmmmm very nice oi, teruskan karyamu :)

    tapi SMA iku ono PKL e tah wheheheheh....

    roomz_2005@yahoo.com

    BalasHapus
  2. baiklah,, aku ralat,
    pas saya SMK dan sedang PSG,,
    sip kan?!? ^^

    BalasHapus
  3. lucu ya tulisannya.. ikikikik...

    BalasHapus
  4. mbak parkjonghwa [nama aslinya siapa sih?, hehehe,,] makasii ya,, uda mampir,,

    tulisannya mbak bagus jg [walo belum sempet sampe habis hehe,,]

    koreaholic ni kayaknya,,

    salam kenal,,

    BalasHapus

setelah baca, jangan lupa kritik dan saran ya,, senang membaca komentarmu :)