Kamis, 18 Agustus 2011

Yang telah pergi akan datang kembali…. #4

cerita sebelumnya:

Akhirnya Bimo meminta maaf lewat sms atas apa yang terjadi tadi siang. Tak cukup itu, dia langsung menelponku begitu aku membalas pesannya.

Bimo,,, Bimo,,, tetep dengan ke-gak penting-annya. Tapi ak suka. Oups,,, ak bilang apa? Suka? Hehehe,,, sepertinya memang begitu.

_______________________


Setelah hari itu, Bimo jadi sering meng-sms atau menelponku. Makan siang pun jadi lebih indah karena ak selalu bersama Bimo dengan segala critanya. Tapia 1 hal yang aneh. Bimo tidak pernah mau membahas terlalu lama & jauh bila ak bertanya tentang Danisa. Ok, ak maklum. Mungkin privacy menurutnya. Hingga suatu siang pertanyaan Bimo membuatku bingung untuk menjawab.

“Dev, boleh tau gak? kenapa sampe sekarang kamu belum punya pacar. Maksudku kamu kan gak jelek-jelek amat, pinter, karir kamu bagus, pastinya kan banyak tu cowok yang pengen jadi pacar kamu?”

“Oya? Emang ak segitu menariknya ya sampe pastinya banyak cowok yang pengen jadi pacarku? Emang itu patokan? Nah, kalo ak bilang nggak gimana? Kalo ak bilang gak ada cowok yang tertarik sama ak? Gimana?”

“Hahaha,,, kamu bercanda kan?”. Ak diam.

“Oups,,, sori”, Bimo minta maap.

“Hem,,, gak papa”

“Bim, sejak ak putus sama kamu, ak balik kayak dulu lagi. Ak gak bisa lagi percaya sama orang. Ak gak punya orang terdekat yang bisa ak ajak sharing masalah apapun. Ak selalu negative thinking ke orang. Gitu juga ke cowok. Ak gak pernah berniat untuk percaya sama cowok manapun. Jadi sampe’ sekarang ak tetep sendiri”. Bimo diam.

“Eh, tapi sendiri itu enak lho. Bisa pergi kemana-mana, bisa ngapain aja sesuka hati, bisa ngecengin cowok dimana-mana hahaha,,,,”, kataku kemudian tertawa. Bimo ikut tertawa walau sepertinya terpaksa.

“Eiya, Bim, besok harusnya kamu sama Danisa ke kantorku kan?”, ak mengalihkan topik pembicaraan.

“Iya, tapi mungkin cuman Danisa yang datang. Ak gak bisa”

“O,,, gitu,,,”

Senin, 27juni11, 21.50.

Ary,,, capek.

Untung aja desain kartu Danisa udah selesai. Jadi besok siap ak presentasikan.

Oya, Ry. Tadi Bimo sempet nanya knapa ak belum punya pacar. Trus ak jawab aja karna ak blum bisa lagi percaya sama orang. Padahal, Ry, kamu tau kan alesannya apa.

Yup, Bimo yang terakhir. Ak udah gak bisa & gak berniat punya cowok lagi. Terserah kalo akirny Bimo nikah sama sapa. Itu hak & kputusan dia. Ak gak akan mnuntut dia menjadikan ak yang terakhir.

Ry,,,

22.12

Dua ini hari terjaga dari mimpi

Kau mulai memanggil kelam dalam diamku

Semakin ku tenggelam merasa kau berakhir

Dan smakin ku ingin kembali bersamamu

Perlahan tapi pasti ku mulai melayang

…..

Lagu Utopia itu terus mengalun dari komputerku diikuti dengan lagu-lagu yang lain. Hari ini Danisa datang setelah makan siang. Dan hari ini pun ak tak ada janji untuk makan siang dengan Bimo.

14.05

Tok… tok… tok…

“Eh, Danisa. Masuk. Udah ak tungguin dari tadi”, ak mempersilahkan Danisa duduk di kursi tamu.

“Sendirian aja?”, tanyaku basa basi.

“Iya, Bimo-nya sibuk di kantor”

“Oh gitu. Eh, ini desainnya. Moga-moga suka. Ak bikin 3 alternatif sekaligus. Biar ada pilihan. Gimana?”

“Em,,, kayaknya ini cocok deh, Dev. Warnanya juga pas sama gaun yang ak pesen. Eh, ak jadi pesen gaun di sini lho”

“Oya? Udah ak duga. Soalnya gaun-gaun di sini emang bagus-bagus sih”. Ak tertawa.

“Terus jadinya dicetak berapa? 200? 300?”

“Banyak banget. Ya nggak lah. Kira-kira 450. Hahaha,,,”. Kami berdua tertawa.

“Yah,,, kira-kira 350 orang yang bakal ak undang. Termasuk kamu. Kamu harus dateng lho”

“Ak usahain deh. Emang jadinya kapan?”

“Dealnya sih tanggal 6 Agustus. Eya, nih ak tulis”. Kemudian Danisa menuliskan nama lengkapnya, Bimo, kedua orang tua mereka, tanggal, waktu dan tempat pernikahan berlangsung.

Setelah semua selesai tiba-tiba Danisa memintaku memberikan pendapat tentang permasalahannya.

“Dev, ak pengen curhat nih. Soal Bimo”

“Emang kenapa Bimo?”, tanyaku ingin tahu.

“Jadi gini, sebenernya yang suka duluan itu ak. Kira-kira 2 tahun lalu ak dikenalin temen ak yang sekantor sama Bimo. Dari pertama kali liat Bimo ak udah ngrasa ada feel sama dia. Bimo itu orangnya jaga jarak banget sama cewek. Makanya ak jadi semakin pengen tau, Bimo itu orangnya kayak gimana. Ak penasaran. Ak cari tau kemana-mana. Tapi sampe sekarang ak belum tau sebabnya apa. Pernah sih ada yang cerita, terakhir kali dia pacaran pas dia kuliah, sama adik tingkatnya. Tapi ak juga gak jelas gitu sebab putus & cerita yang lebih dalam soal ceweknya. Ak sih berkesimpulan ‘nggak mau’-nya Bimo sama cewek ya gara-gara mantannya itu. Bimo sendiri gak pernah cerita soal mantannya. Ak juga takut tanya lebih jauh ke dia. Ak cuman cari tau dari temen-temennya. Nah, di saat-saat pencarian itu ak jadi semakin suka sama Bimo. Ak pengen ngebahagiain dia, pengen dia bisa terbuka lagi sama cewek, pengen dia percaya sama cewek. Makanya ak tempuh segala usaha biar ak yang jadi cewek itu. Alhamdulillah lama-lama dia bisa nerima ak, sampe’ sekarang kami mau nikah”. Danisa diam sejenak. Ini saatku bertanya.

“Terus masalahnya apa?”

“Gini. Beberapa hari ini, kira-kira 2 mingguan ini Bimo jadi lebih pendiem, kayak dulu lagi. Keliatannya sih lagi ada yang dipikirin. Tapi kalo ditanya kenapa, dia gak pernah mau jawab jujur. Jawabnya capeklah, soal kerjaanlah. Padahal sih menurutku bukan soal itu. Kalo menurutku sih ini ada hubungannya sama mantannya Bimo. Makanya ak pengen cari tau tentang mantannya Bimo. Ak pengen mempertemukan mereka sebelum ak nikah. Karena kayaknya ada yang belum selesai diantara mereka dan mereka harus meng-clear-kan masalah itu biar Bimo bener-bener ikhlas nikah sama ak. Nah, masalanya sampe’ sekarang ak belum tau siapa mantannya Bimo. Temen-temen kulia Bimo nggak ada yang mau kasih tau. Lagian yang ak kenal juga cuman dikit. Kata mereka ngapain ak pengen ketemu mantannya Bimo. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi ak gak bisa, Dev. Kayak ada yang mengganjal aja kalo misalnya Bimo gak ketemu mantannya sebelum dia nikah. Nah, menurut kamu gimana, Dev? Perlu gak sih? Dan ak harus gimana biar Bimo bisa terus terang tentang masalahnya”, Danisa menjelaskan panjang lebar.

“OK. Kalo denger dari cerita kamu, aku pengen tanya beberapa hal. Tapi sebelumnya aku minta maap kalo ada yang nyinggung perasaan kamu. Pertama, waktu kamu jadian sama Bimo, apa ada hal yang bikin Bimo ‘terpaksa’ nerima kamu. Kedua, siapa dulu yang ngajak nikah? Kalo kamu, gimana reaksi Bimo. Dan kalo Bimo, alasan dia apa? Ketiga, kalo kamu udah ketemu mantannya, apa kamu yakin ‘masalah diem’nya Bimo itu selesai? Atau bukannya malah nambah masalah baru? Keempat, apa kamu yakin siap ketemu dan mempertemukan Bimo sama mantannya?”. Aku mencoba tenang meski hatiku kalut.

“Harus aku jawab nih?”

“Ya iyalah, Nis”

“Pertama, emang sih aku yang PDKT ke dia. Awalnya Bimo jaga jarak gitu. Tapi akhirnya Bimo bilang kalo dia mau nyoba. Dan selama 2 tahun pacaran ini, Bimo jadi lebih enjoy ketimbang pas pertama ketemu dulu. Itu artinya dia ada perkembangan kan? Kedua, yang ngajak nikah emang aku. Orang tua aku nyaranin aku buat cepet nikah. Secara umur aku udah 24 tahun. Terus aku tanya pendapat Bimo. Setelah Bimo membicarakan sama ortunya, Bimo setuju saran orang tuaku itu. Ketiga, iya sih, ak pernah mikir kalo ternyata apa yang aku lakukan akan bikin masalah baru. Tapi aku juga nggak tahu gimana lagi caranya membuka ke-diam-an Bimo. Jujur awalnya aku takut kalo sebenernya Bimo belum siap nikah sama aku karena masih ada rasa sama mantannya. Makanya aku pengen Bimo meng-clear-kan masalanya sebelum kami nikah. Keempat, aku emang takut kalo sampe Bimo ketemu mantannya. Dan mungkin aku akan ngerasa cemburu juga. Tapi aku harus gimana, Dev?”

“OK. Klo mnurutku nih ya, karna ketakutan-ketakutanmu akan pernikahan, kamu jadi menghubung2kan antara ke-diam-an Bimo sama masa lalunya, sama mantannya. Padahal sih mungkin ada hal lain di balik diem-nya Bimo. & itu yang harus kamu slesein. Tapi bukan dgn cara mempertemukan Bimo sama mantannya. Kedatangan mantannya nggak akan menyelesaikan masalah, Nis. Aku setuju sama temen2nya Bimo bahwa yg berlalu biarlah berlalu. Saranku nih ya, kamu terus terang sama Bimo soal keresahanmu, soal kebingunganmu akan sikap Bimo. Kamu tanya baik2 sama dia, biar dia pun terus terang ngjelasin tentang masalahnya. Kalo emang yg kamu jadiin dasar adalah kelangsungan hubungan kalian yg sbentar lagi nikah, dia pasti akn jujur kok sama kamu. & apapun yg dia jelasin, selama emang itu jujur, kamu harus terima. Karna emang kamu pengen tau. Gitu kan?”

“Gitu ya, Dev?”

“Yup. Jadi gak perlu lagi de pengen tau ada apa dgn Bimo di masa lalu. Yakin de sama aku”. Ak tersenyum meyakinkan.

“Heh,,, OK. Thx, Dev. Saran kamu manjur juga. Ak akan coba tanya dia”

“Gitu, dong. Inget ya!!! Yg lalu biarlah berlalu. Skarang kamu mesti menatap ke depan. Kamu mesti mikirin kapan kamu bayar kartu undangan yg uda kamu pesen”

“Ye,,, sialan kamu, Dev. Iya, iya, aku pasti bayar. Hahaha,,,”. Kami pun tertawa bersama.

Hilang suda semangatku untuk melanjutkan bekerja, bersama pamitnya Danisa. Tanganku ingin diam. Mataku ingin terpejam. Otakku ingin berhenti. Tapi biarlah jantungku tetap berdetak. Lambat seiring detak jarum jam. Lambat seiring ketukan alunan musik yg kini terdengar oleh telingaku.

Mengapa harus ada dirinya di antara kita berdua

yang sama saling mencinta

Haruskah ada bunga di tengah ku berduka

karena dia dengan engkau berbagi cinta

Kau ada di hatiku & dia ada di hatimu

Jika kepedihan hatiku kan jadi bahagiamu

…..


bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setelah baca, jangan lupa kritik dan saran ya,, senang membaca komentarmu :)