Minggu, 13 Mei 2012

Orang Belanda Tidak Suka Nyusuh*

*nyusuh = menyimpan dan menumpuk banyak barang

Saya paling tidak menyukai kebiasaan orang yang suka mengkoleksi barang, entah pakaian, sepatu atau furniture. Apalagi kalau barang-barang itu didapatkan dengan membeli baru, barang impor, harga selangit. Fungsinya apa coba? Padahal akhirnya tidak semua barang itu terpakai. Bahkan bisa rusak hanya karena disimpan terlalu lama. Sayang banget kan?

Entah karena keluarga saya pelit, terbiasa hidup sederhana, atau bahkan cenderung seadanya [hehehe], saya selalu diajarkan untuk setia pada satu barang. Jadi tidak akan membeli yang baru, sebelum barang itu rusak atau tidak muat. Bahkan dalam keluarga kami ada semacam sistem 'turun-temurun'. Pakaian milik kakak yang suda tidak muat akan menurun pada saya, sedang milik saya akan menurun pada adik. Lalu punya adik? Biasanya akan diberikan pada saudara atau orang lain yang membutuhkan. Bukannya menyepelekan orang tersebut sih, tapi selama barang itu masih layak pakai kenapa tidak diberikan saja pada orang yang lebih membutuhkan.

Dari kebiasaan ini saya mnyimpulkan bahwa saya mampu bertahan hidup di Belanda hahaha,, karena ternyata orang Belanda, terutama di kota Zwolle, juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka tidak suka menumpuk baju, mereka hanya mnyimpan baju yang pasti akan mereka pakai, selebihnya akan mereka sumbangkan.

 Ada 3 cara sih yang bisa mereka lakukan untuk menyumbangkan pakaian-pakaian itu.
Pertama lewat kringloop, yaitu semacam toko secondhand. Jadi orang Belanda bisa menjual pakaian mereka tadi di toko ini. Ada 2 jenis kringloop, yang dikelola oleh swasta atau milik perorangan, dan ada yang milik pemerintah, yang hasil penjualannya akan diserahkan kepada pemerintah untuk dikelola.
Cara kedua yaitu melalui kotak kleeding. Kotak ini adalah semacam kotak sampah yang terbuat dari besi dan khusus diperuntukkan 'sampah' baju. Jadi baju-baju yang akan disumbangkan, dibungkus dengan plastik terlebih dulu baru dimasukkan dalam kotak kleeding tadi.
Yang ketiga bisa melalui yayasan sosial. Jadi secara periodik, petugas yayasan akan memasukkan plastik dan surat ke kotak pos rumah-rumah. Isi surat kurang lebih memberitahukan pemilik rumah bahwa mereka bisa menyumbangkan baju tak terpakai dengan cara memasukkan dalam plastik tersebut dan akan diambil petugas sesuai dengan waktu yang tertera dalam surat tadi.
Wow,, sungguh terencana dan terorganisir ya. Coba kalo di sini, mungkin baju-baju itu akan semakin ditumpuk.
Toko secondhand di Zwolle - sumber foto di sini
  
Oya, menurut teman saya yang tinggal di Belanda, kebiasaan lain orang Belanda adalah cenderung hidup nomaden. Mereka lebih suka menyewa flat/apartemen dengan sistem kontrak. Jika mereka akan pindah, mereka harus mengosongkan rumah yang mereka sewa sebelumnya, kecuali mereka ijin kepada pemilik rumah untuk meninggalkan mebel. Karenanya, mereka harus benar-benar menjaga dan merawat barang mereka dengan baik. Karena seandainya barang mereka rusak dan ingin membuangnya, meraka harus menghubungi dinas sampah setempat, dan membayar mahal pajak sampahnya yang diukur dari per meter kubiknya. Dengan aturan ini, pemerintah berusaha mengurangi sampah di belanda. Hmm,, kreatif juga. Sampah saja sampai di-pajak-kan.
kota Zwolle yang bebas sampah - sumber foto di sini

Dan, sepertinya saya memang ada bakat jadi orang Belanda.

sumber data: Juni Maury - joeneyscraft.blogspot.com
   

5 komentar:

  1. heee,,,baru tau klo da yg namanya 'kringloop',,hahhaha,,,

    Nice one
    ^^

    BalasHapus
  2. thank you,, :)
    sebenarnya di Indonesia ada, tp biasanya hanya menjual 1 jenis barang, baju aja,, mebel aja,, dan aja-aja yg lain,, hehehe,,

    BalasHapus
  3. Smoga mba Sarie dapat beasiswa studi ya dari artikelnya ini ^_^ ... btw, oya di indonesia juga ada semacam kringloop? wah sungguh menyenangkan ^_^

    BalasHapus
  4. slama ini sih saya taunya toko baju second dr korea, hongkong, taiwan, gitu,, itupun dianggap milik kelas menengah ke bawah,,
    di jogja ada juga toko second untuk mebel,,
    tp barusan ada toko second baru di depan skolah saya mengajar, sepertinya si nggak hanya baju yang dijual,, belum sempat pergi ke sana,, coba lain kali saya ke situ,, :) cuman ya gitu kebanyakan barang second yg dijual di Indonesia itu masih barang impor,,

    amiin,, makasii doanya, mbak yuyun,, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi saingannya banyak banget, mbak,, hahaha,,,

      Hapus

setelah baca, jangan lupa kritik dan saran ya,, senang membaca komentarmu :)