Kamis, 21 Februari 2013

Hari Inspirasi telah tiba part 1 [#4: Kelas Inspirasi 2]

postingannya lanjut ya,, yg ketinggalan ceritanya bisa ke sini dulu,, oya postingan yang ini akan dibagi dua karna terlalu panjang ehehehe,,

dengan diantar suami, saya sampai di SD 3 Jarakan tepat pukul 6.25,, suasananya adem, tenang karena memang letaknya yg cukup jauh dari jalan besar,,
akhirnya saya bisa bertemu teman-teman yg berasal dari Jakarta,,
yaaak,, inilah kami, kelompok SD 3 Jarakan,, 7 pengajar, yaitu Pak Arif [kepala Perpustakaan, sekaligus koordinator kami], Pak Edhi [profesor sekaligus ahli serangga], Ibu Ammy Nurwati [kepala Balai Konservasi Lingkungan Hidup], Mbak Mega [pendiri sekaligus ketua Yayasan Hoshizora], Mbak Sista [dokter umum], mbak Ramona Tirta [public relation dari Jakarta], dan saya, Sari [crafter :) ], 3 relawan video-fotografer, mas Maman dan mas Edo sebagai videografer, serta mbak Utami sebagi fotografer dr Jakarta [yg ternyata panggilannya jg Sari hehe,,] kami sepakat ber-dress code batik :)

tepat pukul 7, kami apel pagi di lapangan bersama para guru dan para siswa,, hanya kelas 6 yg tidak ikut karena sedang mengikuti try out UASBN,, ibu wakil Kepala Sekolah, Ibu Rini, membuka apel disambung Pak Arif mengenalkan nama kami tanpa profesi, agar surprise di kelas nanti,, dari tempat saya berdiri, tampak anak-anak kelas 1 begitu riuhnya, heboh dan bicara sendiri, wow,, gimana nanti di kelas, degdegan kembali mendera, ternyata memang hampir seluruh volunteer di twitter bilang bahwa kelas 1 adalah kelas killer ahahaha,, sedangkan anak-anak lain ada yg tampak serius memperhatikan kami satu persatu sambil berbisik pada temannya,, hahaha,,

Jam pertama kelas 1,
ketika saya masuk, saya langsung disambut anak-anak yg melihat keluar lewat jendela, berbicara keras-keras, berdiri jauh dari bangkunya,, o-ow,, langsung saya memberi salam, saya ulang 4 kali sampai anak-anak ngeh akan kehadiran saya dan membalas salam saya semua hahaha,, tapi tiba-tiba tanpa disangka ada seorang anak yg dance di depan kelas,, mampus nih,, dengan sedikit rayuan akhirnya dia mau kembali ke bangkunya,,
saat saya tanya masih ingat nama saya tadi, seorang siswi dengan lantang menjawab, "Ibu Sari",, trimakasi, nak,,
saat saya menjelaskan tentang kartu toilet, beberapa siswa putra maju ijin ke toilet, tapi begitu saya diam melihat ke arahnya, mereka langsung kembali ke tempatnya lagi hahaha,, cari perhatian banget ya mereka ini,,
saat saya menuliskan profesi saya di papan, beberapa siswa dengan lantang membaca "crafter",, wow,, "c"nya dibaca "k" lho,, bagus, nak,,
saat saya tanya, apa contoh karya kerajianan yg mereka ketahui, seorang siswi menjawab, "guci, bu", langsung teman-temannya yg lain bergiliran menjawab, "pot, bu,, vas, bu,, genteng, bu",, bagus, nak,,
siswa aktif, gurupun harus aktif,, hahaha,, saya berjalan ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang,, setengah jam pertama, saya mulai serak dan berkeringat ahahaha,,
saat saya bertanya apa cita-cita mereka, bergantian mereka katakan "pembalap, pemain sepak bola klub Spanyol, polisi, tentara, dokter, bidan, suster" tapi yang membuat saya terharu, ketika saya bertanya pada salah satu yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola "kalo jadi pemain sepak bola, maunya main di klub mana? Inggris? Itali?", jawabnya "nggak, aku mau main di tim Indonesia saja" dengan logat Jawanya,, aaaah,, hebatnya cita-citamu, nak,,
enak-enak menjelaskan, dikejutkan dengan 2 siswa yg duduk di depan pojok sudah berancang-ancang mau berantem,, o-ow apa lagi ini,, saya berusaha misahin, untung guru wali kelas segera datang, begitu dipisahkan, mereka langsung nangis,, ooh,, ini yg saya kuatirkan, ada yg menangis di kelas,,
tapi beberapa detik kemudian, kelas kembali terkondisikan,, akhirnya tiba waktunya berkarya, dengan bantuan wali kelas, saya membagi kelompok dan bahan berkarya,,
di tahap ini, para siswa begitu antusias menyelesaikan prakarya yg diberikan,, ugggh,, rasanya lelah persiapan kemarin hilang begitu saja, melihat betapa senangnya anak-anak ketika karyanya suda selesai,, bagus, nak,,
satu persatu karya dipamerkan dan tepuk tangan sambil mengucapkan "wow kereeeen,," pun tidak henti-henti,,
dan, oupss,, ternyata sudah 60 menit berlalu, tidak terasa,, "terima kasih, nak", "terima kasih, bu",

jam kedua, kelas 3
di kelas ini mereka ingat nama saya, tapi selalu memanggil saya "mbak" bukan "bu" alasannya karna saya tampak masih mbak-mbak,, hahaha,,
ketika saya bertanya tentang cita-cita, jawaban mereka "pemain sepak bola, dokter, tentara, ustad, pemain bulu tangkis seperti Taufik Hidayat", ketika saya tanya siapa yg mau jadi presiden mereka tidak ada yg mau, alasannya presiden pekerjaannya banyak ahahaha,,
kemudian saya bertanya kira-kira apa pekerjan saya sambil mengeluarkan kain, gunting, jarum, benang, dan menggantungkan beberapa karya,, tiba-tiba seorang siswi menjawab "memeh" [menjemur dalam bahasa Jawa] o-ow,, saya sempat terdiam, antara speechless dan geli ahahaha,,
tapi begitu karya saya keluarkan, mereka langsung berebut ingin lihat, ingin minta, bahkan sampai ingin membeli,, bagus bagus katanya,, wuaaaa,, trimakasi, nak,,
ketika saya bertanya contoh karya kerajinan mereka cukup kesulitan,, masi bingung,, lalu ada yg menjawab "lempung"
"dibuat jadi apa?"
"barang bermanfaat"
"contohnya?"
"gerabah"
"apa lagi?"
"guci"
"bagus,,"
langsung deh mereka berebut menyebutkan kerajinan dari tanah liat, dari kain,, dll,,
di kelas 3 ini mereka suda mulai peduli gender, ketika berkelompok laki perempuan, serentak mereka berseru "cieeee,,"
seperti di kelas sebelumnya, di kelas inipun mereka bersemangat saat berkarya dan lebih senang lagi saat tau karyanya boleh dibawa pulang,
luang sedikit, mereka kembali berebut mengambil karya saya, akhirnya saya katakan bahwa mereka juga bisa membuatnya dan saya menjelaskan bagaimana cara membuatnya,,
kemudian saya bertanya "bagaimana, menyenangkan ya kegiatan kita tadi?", "iyaaaa,,", "jadi siapa yg kira-kira ingin jadi crafter seperti ibu?", langsung lengang dan hanya ada gelengan ahahaha,,
begitu bel istirahat, bukannya keluar kelas, mereka kembali berhamburan ke meja saya saat saya sedang sibuk beres-beres dan tidak sempat menyelamatkan gantungan kunci yang mereka perebutkan,, hahahaha,, kembali mereka memohon untuk membelinya,, bahkan beberapa ada yang memberi saya uang 2 ribu sebagai gantinya,, oooh, nak,, polosnya kalian,, setelah dirayu-rayu, akhirnya mereka mengembalikan ganci-ganci itu, bahkan ada anak lain yang membantu saya mengumpulkannya,, trimakasii, nak,,

bersambung ke sini,,
saya saat di kelas 3
foto milik @kepikecil
yang antusias membeli itu justru siswa putra :D
foto milik @kepikecil

5 komentar:

  1. Sungguh menginspirasi buk... pelajaran yg begini ini yg paling mengena daripada gonta-ganti kurikulum tapi efeknya gak jelas dan cenderung membuka pintu korupsi. Smangat tetap berkarya buk hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, pak :)
      semoga anak-anak dan guru-guru sukses terus ya, apapun kurikulumnya,, saya bener-bener kangen Panderman hehe,,
      trimakasi untuk smangatnya :D

      Hapus
  2. waaa mbak sari keren! mudah2an lain kali kalo ada kesempatan mo daftar jd pengajar jg. heheh
    Btw, benar bgt mbak. siswa kls 1 killer. haha. sy sempat salah sangka. kasian pengajar di tim sy yg dapat kls 1. little monster katanya. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasii, mbak Nindy,,
      hahaha,, the little monster yang malah bikin banyak cerita :)
      iya, ikutan jadi pengajar, mari sebarkan virus craft ehehehe,,

      Hapus

setelah baca, jangan lupa kritik dan saran ya,, senang membaca komentarmu :)